SMP Nasima Belajar Luar Kelas Bersama Wirausahawan Kain Perca

2019-04-10 08:18:00

Peserta didik kelas VIII menggali inspirasi wirausaha di sentra kerajinan kain perca Wonoyoso

 Kreativitas kelompok PKK Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang mampu membalikkan keraguan hampir semua peserta kegiatan Pengenalan dan Eksplorasi Lingkungan dan Profesi atau belajar luar kelas SMP Nasima.  Mereka terdiri dari sekitar 95 peserta didik kelas VIII SMP Nasima Semarang bersama 8 guru pendamping. Betapa tidak. Hampir semua peserta didik yang berekplorasi awalnya merasa kurang bersemangat ketika tahu yang akan dikunjungi hanyalah sebuah tempat pembuatan keset.

Akan tetapi, begitu sampai lokasi, keadaan berubah seratus delapan puluh derajat. Tim dari Koperasi PKK yang semua beranggotakan ibu-ibu muda melakukan penyambutan dengan cara berbeda. Begitu rombongan dari SMP Nasima Semarang datang, langsung disambut dengan pajangan hasil kerajinan yang begitu indah. Penataan yang diatur sedemikian rupa membuat para siswa terperangah.


Peserta didik antusias bertanya dan melihat langsung proses kreasi kain perca menjadi berbagai bentuk unik

 

Belajar di luar kelas yang dilaksanakan pada Selasa, 19/3/2019 tersebut pada akhirnya mencapai tagret yang direncanakan. Peserta didik dapat belajar secara langsung bagaimana kain perca sisa pabrik garmen mampu disulap menjadi hasil kerajinan yang kaya manfaat. Mulai dari keset, hiasan dinding, perlengkapan makan, dan masih banyak lagi jenis kerajinan lainnya. Begitu tertariknya para siswa pada hasil kerajinan, dalam waktu sekejap lebih dari seribu karya kreatif tersebut diborong peserta didik.

Anna Setyarini, koordinator PKK Bakti Bina Mandiri mengungkapkan, kebersamaan dan kreativitas menjadi modal utama untuk merintis usaha koperasi. Ibu-ibu yang sebagian bekerja di pabrik garmen mampu menerjemahan pengamalan mereka dalam menerapkan prinsip reuse, reduce, dan recycle (3R). Para siswa pun mendapatkan pengalaman langsung prinsi 3 R yang diajarkan pada mata pelajaran IPA, PKWU, dan Seni Budaya.


Peserta didik aktif bertanya pada narasumber untuk mengisi lembar kerja masing-masing

 

Satu hal yang membuat semakin takjub dengan kreativitas para ibu PKK adalah meski tinggal di daerah yang terpencil, ternyata mereka berhasil mengeksplore sistem ekonomi yang sedang menjadi tren saat ini. Anna Setyarini dan tim mampu memanfaatkan segala potensi untuk mengembangkan usaha. Mulai dari menjali kemitraan dengan BUMN, aktif mengikuti pameran yang dilaksanakan oleh dinas terkait, juga memanfaatkan media online untuk melakukan promosi. Hal ini dibuktikan proses penjualan barang kerajinan sampai ke Kalimantan dan Sumatera. 

“Kami senang dan terinspirasi dari kreativitas ibu-ibu di sini. Sebagai remaja kami pun ingin jadi wirausahawan di masa depan. Potensi apa yang ada di sekitar kami akan kami olah dan kembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual tinggi,” kata Ferdinansyah, peserta didik kelas VIII A SMP Nasima.

 

Belajar di Museum Ambarawa

            Sekitar jam 11.00 rombongan kelas VIII berpindah objek ke Museum Kereta Api Ambarawa. Setelah salat Zuhur berjamaah dan makan siang mereka belajar sejarah di kompleks yang dulunya berupa stasiun kereta api pada zaman penjajahan Belanda. Peserta didik mendapat paparan sejarah perkeretaapian dari pemandu yang berpakaian ala pegawai zaman dulu. Setelah penjelasan klasikal, peserta didik berkesempatan berkeliling museum.


Belajar seru di Stasiun Ambarawa bersama pemandu yang berpenampilan ala zaman dulu  

 

Mereka masuk ke dalam ruangan museum. Beberapa foto suasana stasiun pada masa lampau dan peralatan komunikasi ditata serta terawat baik. Tulisan deskripsi maupun tambahan penjelasan dari pemandu membuat anak memiliki pengetahuan yang memadai. Puluhan lokomotif kereta yang terpajang di sekitar ruang museum dan peron menjadi objek yang menarik untuk dieksplorasi serta dijadikan objek swafoto. (A Rohim)


Messages