PEMBUKAAN PESANTREN RAMADHAN: Pengawas YPI Nasima, Drs H Nowo Susilo BA menabuh gendang pembukaan Pesantren Ramadhan di Aula Masohi SD Nasima didampingi Ketua Pengurus YPI Nasima, Dr Indarti MPd (paling kiri) serta organ YPI Nasima, Kepala SD Nasima, perwakilan orang tua, dan panitia kegiatan (Selasa 3/3/2026).
Gema selawat dan lantunan ayat suci Al-Qur’an menyeruak di setiap sudut koridor sekolah, menandai dimulainya agenda tahunan yang paling dinanti. Pesantren Ramadhan di Sekolah Nasima tahun ini hadir dengan nuansa spiritual yang kental, membawa misi besar untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia yang berilmu dan berakhlakul karimah. Seluruh jenjang pendidikan bersinergi dalam sebuah ekosistem pembelajaran agama yang dinamis, memadukan tradisi pesantren dengan pendekatan edukasi modern.
Para peserta didik dari setiap jenjang Sekolah Nasima tidak sekadar datang untuk belajar di kelas, melainkan menjalani pengalaman hidup sebagai santri dengan menginap di sekolah. Melalui durasi waktu yang telah ditentukan, mereka diajak untuk melepaskan sejenak rutinitas rumah demi menyelami kedalaman ibadah bersama rekan sebaya. Sebelum fase menginap dimulai, sekolah telah memberikan pembekalan intensif berupa penguatan ibadah praktis dan penanaman nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi pondasi utama selama kegiatan berlangsung.
Kekuatan utama dari program ini terletak pada penggunaan modul khusus yang disusun secara sistematis oleh tim keagamaan sekolah. Modul tersebut berfungsi sebagai kompas materi sekaligus panduan aktivitas harian agar setiap detik yang dilewati siswa bernilai ibadah dan ilmu. Fokus utama tahun ini merujuk pada kisah perjuangan dan mukjizat salah satu utusan Allah, yang diinternalisasikan ke dalam sikap keseharian para peserta didik di lingkungan sekolah.

KETAUHIDAN NABI ISA: Peserta didik kelas 12 SMA Nasima, Eizar, Farrel, dan Naufal sedang mempresentasikan hasil diskusinya tentang ketauhidan Nabi Isa alaihissalam berdasar Modul Pesantren Ramadhan, Al Qur’an, dan sumber terpercaya lainnya.
Direktur Asrama dan Keagamaan YPI Nasima, Ahmad Mundzir MAg AH, menjelaskan landasan filosofis kegiatan ini. “Sejak 1999 Sekolah Nasima konsisten memuliakan bulan Ramadhan dengan kegiatan Pesantren Ramadhan tematik. Peserta didik menginap di sekolah dengan jumlah hari tertentu, sebelum menginap ada kegiatan penguatan ibadah dan akhlak sesuai tema keteladanan para nabi. Ada modul yang disusun sebagai panduan materi maupun kegiatan. Tahun ini untuk KB-TK Nasima mengangkat tema ‘Keteladanan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam’. Sedangkan SD, SMP, dan SMA Nasima bertema ‘Keteladanan Nabi Isa alaihissalam’. Karakter kasih sayang, ketauhidan, dan penguatan toleransi menjadi fokus pada pesantren ini,” ujarnya.
“Tema Nabi Isa menuntut pengemasan materi yang tepat dan sistematis sesuai tingkat perkembangan peserta didik di dalam modul maupun penyampaiannya, karena ada beberapa bagian yang sensitif dan terkait dengan agama lain. Oleh karena itu, kita bentuk tim penyusun dan tahapan penyuntingan secara bertahap. Pada akhir setiap modul di jenjang SD, SMP, dan SMA Nasima kita akhiri dengan tafsir serta implementasi Al Qur’an surah Al Kafirun, terutama ayat terakhir ‘bagiku agamaku bagimu agamamu,” pungkas Mundzir.

SHALAT BERJAMAAH: Anak usia dini TK Nasima melaksanakan shalat berjamaah di sekolah dalam kegiatan Pesaantren Ceria TK Nasima pada Senin-Selasa 2-3/3/2026.
Pesantren Ceria TK Nasima
Keceriaan meluap di unit KB-TK Nasima saat anak-anak mengikuti Pesantren Ceria pada Senin dan Selasa, 2-3 Maret 2026. Santri cilik dari kelas TK A dan TK B ini menjalani program satu hari penuh secara bergantian, mulai dari pagi hari hingga waktu berbuka puasa dan shalat Magrib berjamaah. Agenda disusun sangat ramah anak, diawali dengan tadarus Al-Qur’an sesuai tingkat kemampuan masing-masing, diselingi dengan berbagai games Islami yang edukatif untuk merangsang motorik dan pemahaman agama mereka.
Meski masih berusia dini, para siswa diajak mengerjakan modul interaktif dan melaksanakan shalat Zuhur berjamaah sebagai bentuk pembiasaan. Salah satu momen unik adalah tradisi “buka Zuhur”, di mana mereka belajar esensi berbuka di tengah hari sebelum melanjutkan aktivitas seperti tidur siang dan mandi sore di sekolah. Transformasi menjadi santri kecil ini terlihat semakin nyata saat mereka berganti pakaian bersih dan bersiap mengikuti sesi dongeng yang penuh pesan moral.

DONGENG ISLAMI: Direktur SDM YPI Nasima, Hj Dwi Astuti SPd MM (nomor 3 dari kiri) serta santri cilik dan guru KB-TK Nasima berfoto dengan Kak Jendro seusai acara Dongeng Islami dalam kegiatan sore Pesantren Ceria TK Nasima.
Puncak keceriaan terjadi saat Kak Udin dan Kak Jendro hadir membawakan dongeng Islami yang mengundang gelak tawa sekaligus hikmah. Kegiatan ditutup dengan khidmat melalui buka puasa bersama di selasar sekolah dan shalat Magrib berjamaah sebelum dijemput oleh orang tua. Pengalaman ini menjadi memori kolektif yang indah bagi anak-anak dalam mengenal indahnya bulan suci di lingkungan sekolah mereka di Jalan Puspanjolo Tengah Raya 69.
Nyantri asyik di SD Nasima
Jenjang SD Nasima melaksanakan “Nyantri Asyik” dengan jadwal marathon yang dimulai pada Senin, 2 Maret untuk kelas 1-2, dilanjutkan Selasa-Jumat (3-6/3) untuk kelas 3-4, dan ditutup Sabtu-Sabtu (7-14/3) untuk kelas 5-6. Aktivitas ini dirancang untuk membangun kemandirian total, di mana para siswa melakukan sahur dan buka puasa bersama di sekolah. Selain pendalaman materi dari modul tematik, mereka diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian shalat wajib dan sunah secara berjamaah, termasuk pelaksanaan qiyamulail.

BUGARIA SANTRI: Santri SD Nasima melakukan senam bugar dan ceria di halaman sekolah dipandu Hj Umi Khulsum SPd dan para guru pendamping.
Kedisiplinan spiritual diseimbangkan dengan kebugaran melalui sesi ‘Bugaria’ (bugar ceria) dan pelatihan lifeskill untuk melatih kemandirian dalam mengelola kebutuhan pribadi, merapikan ruang tidur, menanam tanaman hias di pot, dan sebagainya. Nuansa Ramadhan semakin kental dengan adanya kultum Subuh, peringatan Nuzulul Qur’an, serta aksi sosial berupa buka puasa bersama anak yatim dan berbagi kepada dhuafa sekitar sekolah. Para santri juga diajak mengasah kemampuan public speaking melalui program Dakwah Anak dan Tarawih Keliling (Darling) yang menyasar tujuh masjid di sekitar Semarang.
Tujuh masjid itu adalah Masjid Darul Arqom Puspanjolo Tengah Raya (Sabtu, 7/3/2026) dengan dai Azzana Sakhi Aisy Reza, Masjid Biturrahim Mintojiwo (Ahad 8/3/2026) dengan dai Leanay True Asmara, dan Masjid Al Iman Manyaran (Senin 9/3/2026) dengan dai Nola Lintang Olinda Aqila. Kemudian di Masjid At Taqwa Puspanjolo Selatan (Selasa 10/3/2026) dengan dai Shazia Zhafira, Masjid Al Muslim Puspanjolo Dalam (Rabu 11/3/2026) dengan dai Kumara Alfarizqi Rahman, Mushola Al Ikhlas Puspowarno (Kamis 12/3/2026) dengan dai Jihan Salsabilla Suprapto, dan terakhir di Masjid Al Falah Pasadena (Jumat 13/3/2026) dengan Azzana Sakhi Aisy Reza sebagai dainya.

DARLING: Peserta didik kelas 6 SD Nasima, Nola Olinda Lintang Aqila (kiri) sedang menyampaikan ceramah di hadapan jamaah shalat Isyak dan Tarawih di Masjid Al Iman Manyaran Semarang pada Senin 9/3/2026.
Nola Lintang Olinda Aqila, salah satu peserta didik kelas 6 SD Nasima yang memberi ceramah di Masjid Al Iman Manyaran, mengaku sangat menikmati rangkaian acara tersebut. “Aku senang sekali bisa menginap di sekolah sama teman-teman. Paling seru saat kegiatan Darling di masjid, karena kami bisa belajar berani berbicara di depan orang banyak sambil berbagi ilmu tentang kisah Nabi Isa,” ungkapnya dengan antusias.
Santripreuneur remaja di SMP Nasima
Bagi peserta didik SMP Nasima, konsep pesantren dikembangkan menjadi “Santripreuneur Remaja” yang berlangsung antara Senin-Senin (2-9/3) untuk kelas 7 dan Senin-Sabtu (9-14/3) untuk kelas 9. Fokus utama adalah pembentukan mentalitas tangguh dan kepemimpinan. Selain agenda rutin seperti sahur, buka bersama, dan pendalaman modul, para remaja di Jalan Trilomba Juang 1 ini dilatih menjadi petugas ibadah, termasuk memberikan kultum Tarawih di hadapan komunitas sekolah dan masjid sekitar sekolah.
Pemateri tamu semakin memperkaya wawasan dan motivasi wirausaha para santri. Pemateri tamu itu antara lain, wirausaha laundry oleh Brata Isbiantara SPd (orang tua peserta didik, Dzaky), kreasi parcel lebaran bersama Arina Silviya MPd, pentas wayang dengan cerita islami bersama Tony Eka Putra AW (alumnus SMP Nasima), menjaga kesehatan melalui puasa oleh dr Nugraheni Itsnal Muna MBiomed (orang tua peserta didik Alvaro), berkreasi keychain ketupat bersama Rurin Silsilia, serta mengenal dan menghindari kejahatan cyber bersama Adhi Prasetyo SKom MM (orang tua peserta didik Edward)

POHON KOMITMEN: Santri SMP Nasima sedang mengikat tulisan komitmen peningkatan kualitas ibadah daan akhlak selama Ramadhan 1447 H di “pohon komitmen santri”.
Program ini juga mendorong interaksi sosial melalui silaturahmi ke berbagai pondok pesantren untuk memperkaya wawasan keislaman mereka. Kemampuan dakwah mereka pun diuji secara nyata melalui program Tarawih Keliling (Darling) yang menyasar dua masjid besar di wilayah sekitar. Kegiatan ini tidak hanya melatih pemahaman agama, tetapi juga kepekaan sosial serta kemampuan beradaptasi dengan masyarakat umum di luar lingkungan sekolah.
KREASI PARSEL: Entrepreneur muda, Arina Silviya MPd (nomor 4 dari kanan) sedang mengapresiasi parsel lebaran karya salah satu kelompok santri SMP Nasima. Parsel-parsel yang dibuat selaanjutnya akan dibagikan ke para dhuafa.
Ernita Marni SPsi, selaku orang tua peserta didik dan Ketua Forum Silaturahmi Orang Tua (FSOT) SMP Nasima, menyampaikan rasa bangganya terhadap perkembangan sang buah hati. “Pesantren Ramadhan ini sangat efektif membantu transisi anak saya menjadi lebih dewasa. Saya melihat mereka jadi lebih mandiri dalam hal ibadah dan memiliki tanggung jawab yang besar, terutama saat diberi amanah untuk bertugas di masjid masyarakat,” tuturnya memberikan apresiasi.
Santri mandiri di SMA Nasima
Jenjang SMA Nasima berfokus mengembangkan tema Nabi Isa alaihissalam untuk mewujudkan santri mandiri. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu-Sabtu (4-14/3) bagi kelas 10 dan Sabtu-Sabtu (4-14/3) bagi kelas 12. Di kampus Jalan Arteri Yos Sudarso 17, materi keteladanan Nabi Isa alaihissalm dikupas lebih dalam melalui diskusi kritis. Para siswa didorong untuk mengelola waktu mereka secara efektif antara ibadah wajib, qiyamulail, dan pengembangan diri melalui lifeskill yang relevan dengan kebutuhan masa depan mereka.

PRODUK KULINER: Santri SMA Nasima tampak terampil membuat kue-kue lezat yang bisa menjadi salah satu alternatif wirausaha kuliner.
Peran sebagai teladan ditunjukkan melalui pelibatan santri dalam kepanitiaan kegiatan dan program Safari Dakwah Tarawih yang unik, di mana mereka bertugas di lingkungan pesantren internal SD dan SMP Nasima serta masjid sekitar. Hal ini menciptakan rantai inspirasi yang berkelanjutan antarjenjang di Sekolah Nasima. Selain itu, jangkauan dakwah mereka juga diperluas ke masyarakat umum, menunjukkan bahwa siswa SMA Nasima hadir memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Ketua Pengurus YPI Nasima, Dr Indarti MPd, menegaskan tujuan besar dari seluruh rangkaian ini. “Kami ingin memastikan bahwa karakter Nasima yang nasionalis sekaligus agamis benar-benar terhujam kuat. Melalui format pesantren Ramadhan ini, meski hanya sekitar sepuluh hari setiap tahunnya kami menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan iman dan mampu menjadi teladan bagi lingkungan di mana pun mereka berada,” tegasnya.

BAKTI LINGKUNGAN: Santri SMA Nasima, Nabila Carissa Putri (paling kanan) dan teman-teman kelompoknya sedang menyebutkan jenis sampah yang mereka punguti dari Pantai Marina Semarang dalam kegiatan bakti lingkungan Pesantren Ramadhan.
Pesantren Persaudaraan
Sebagai kegiatan terbesar dalam rangkaian kegiatan Pesantren Ramdhan Sekolah Nasima, sebanyak 229 santri dari kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA Nasima mengikuti “Pesantren Persaudaraan” pada Kamis-Sabtu, 5-14 Maret 2026. Berlokasi di Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mereka merasakan atmosfer pesantren salaf yang autentik. Aktivitas mengaji dilakukan langsung bersama para kyai, gus, dan ning pengasuh pondok, memberikan perspektif ilmu agama yang khas serta mendalam melalui sumber-sumber ilmu yang bersanad.

BARISTA: Santri-santri putri Nasima sedang belajar meracik kopi selayaknya barista pada salah satu kegiatan lifeskill Pesantren Persaudaraan Sekolah Nasima-Ponpes Al Hikmah 2.
Kehidupan di lereng Gunung Slamet ini juga diisi dengan pengayaan keterampilan yang beragam. Para siswa belajar seni kaligrafi, teknik barista profesional, hingga seni pertunjukan seperti Tari Zapin, Guci, dan Ratoh Jaroe. Perpaduan antara kedisiplinan pondok dengan eksplorasi minat bakat ini menciptakan pengalaman belajar yang holistik, di mana mereka juga melakukan kegiatan mirip di sekolah namun dengan sentuhan kearifan lokal pesantren.

KAJIAN BERSANAD: Salah satu Pengasuh Ponpes Al Hikmah 2, KH Izzudin Masruri sedang mengajar materi salah satu kitab kuning kepada santri-santri putra kelas 8 SMP Nasima.
Pengasuh Ponpes Al Hikmah 2 Brebes, KH Sholahudin Masruri, menyambut baik kehadiran para santri Nasima. “Kehadiran anak-anak Nasima di sini membawa warna tersendiri. Mereka belajar bahwa Islam itu luas dan indah melalui kesederhanaan hidup di pondok. Kami berharap pengalaman di Benda ini menjadi kenangan spiritual yang akan terus membimbing langkah mereka di masa depan,” kata Kyai Sholah. “Kami juga bersyukur bisa meneruskan wasiat ayahanda kami, Almaghfurllah KH Muhammad Masruri Abdul Mughni yang sempat tiga tahun mendampingi santri Nasima belajar di sini pada tahun 2009 sampai 2011. Beliau begitu mencintai santri-santri Nasima sampai menyatakan bahwa sampai kapanpun santri-santri yang saat ini dan yang akan belajar di Al Hikmah 2 merupakan santri Kyai Masruri. Beliau juga berpesan kepada kami anak-anaknya agar persaudaraan Al Hikmah 2 dengan Nasima dijalin selamanya,” pungkas kyai penggemar kopi dan ramah itu. (naskah: Pram, foto: Tim Dok Nasima)
