TAMPIL PERDANA: Kelompok karawitan “Dwija Nasima Laras” menyajikan lagu Jawa yang sarat makna dengan iringan gamelan yang megah dalam acara halalbihalal keluarga besar YPI Nasima pada Sabtu 11/4/2026.
Alunan nada pentatonis yang ritmis dan syahdu menggema di Aula Kaimana SMA Nasima, Jalan Arteri Yos Sudarso Kota Semarang, Sabtu (11/4/2026). Kelompok karawitan “Dwija Nasima Laras” sukses mencuri perhatian dalam acara halalbihalal YPI Nasima dengan mengharmonikan seni budaya adiluhung Jawa ke dalam momentum keagamaan Idulfitri. Penampilan mereka yang memukau di awal dan jeda acara memberikan nuansa tradisional yang kental, sekaligus menjadi simbol pelestarian budaya di lingkungan pendidikan Islam modern.
Grup karawitan ini tampil istimewa dengan formasi lengkap yang terdiri dari gabungan guru serta tenaga kependidikan dari seluruh jenjang, mulai dari KB-TK, SD, SMP, hingga SMA Nasima. Kekuatan vokal tim ini mengandalkan harmonisasi enam waranggana (penyanyi perempuan) dari deretan guru yang berpadu apik dengan tiga wiraswara (penyanyi laki-laki). Sinergi antara penabuh gamelan dan vokal tersebut menciptakan atmosfer yang hangat, mempererat tali silaturahmi di antara 300 undangan yang hadir.
Beberapa gendhing atau lagu berbahasa Jawa populer dibawakan dengan penuh penghayatan, di antaranya lagu Suwe Ora Jamu yang ikonik, Gugur Gunung yang membangkitkan semangat gotong royong, hingga Ladrang Kebogiro yang megah. Penampilan ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan wujud nyata komitmen Sekolah Nasima dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kecintaan terhadap warisan leluhur kepada seluruh sivitas akademika melalui praktik seni secara langsung.

MEMUKAU HADIRIN: Hadirin acara halalbihalal menikmati setiap lantunan syair yang harmoni dengan gamelan pengiring. Mereka berusaha memaknai setiap larik kata-kata tembang yang penuh ajaran kehidupan.
Koordinator tim karawitan sekaligus Direktur SDM YPI Nasima, Hj. Dwi Astuti, S.Pd., M.M., mengungkapkan rasa bangganya atas dedikasi para guru dan tenaga kependidikan dalam melestarikan seni karawitan ini. “Dwija Nasima Laras adalah wadah bagi kami untuk mengekspresikan nilai kesantunan dan harmoni yang ada dalam budaya Jawa. Melalui latihan rutin di sela kesibukan mengajar, kami ingin menunjukkan bahwa identitas sebagai pendidik muslim tidak lepas dari akar budaya lokal. Penampilan hari ini merupakan persembahan tulus untuk mempererat rasa kekeluargaan sekaligus menjaga agar seni adiluhung ini tetap hidup di hati warga Nasima,” pungkas Dwi Astuti. (naskah: Pram)

great!