JEMBATAN AMPERA: Peserta kegiatan Eksplorasi, Live in, Ekspos-Jelajah Nusantara (ELE-JN) SMA Nasima di tepi Sungai Musi berlatar Jembatan Ampera yang ikonik (Senin 20/4/2026).
Langkah kaki 69 peserta didik SMA Nasima menyentuh tanah Palembang dengan antusiasme yang tinggi. Sepanjang 19-25 April 2026, mereka tidak sekadar menjadi turis, melainkan menjadi penjelajah dalam program Eksplorasi-Live in-Ekspos Jelajah Nusantara (ELE-JN). Mereka didampingi oleh Wakil Kepala SMA Nasima Bidang Kurikulum dan Pengajaran, Isnayani Tabi’ul Mursyida MPd, Wahyu Deni Aryani MPd, Rizky Meutia Ramadita SPsi, Suprihati SPd, Ulil Absor SPd, dan Mohammad Dipta Aditya SPd. Selain itu salah satu Badan Eksekutif YPI Nasima, yaitu Koordinator TI Sekolah Nasima, Abdul Rozak SKom turut serta mendampingi. Para pendamping berperan efektiif untuk memastikan setiap detik perjalanan menjadi pengalaman edukatif yang mendalam dan bermakna. Mereka melakukan penjelajahan sejarah, budaya, sosial, ekonomi, serta religi di wilayah yang lazim dikenal sebagai Bhumi Srivijaya (Bumi Sriwijaya) atau Bumi Wong Kito itu.
Program ELE-JN di SMA Nasima merupakan sebuah model pembelajaran holistik yang dirancang untuk melampaui batas ruang kelas. Program ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah metode pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning) yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Eksplorasi adalah fase awal di mana peserta didik berperan sebagai peneliti. Mereka diajak untuk tidak hanya melihat, tetapi mengamati fenomena sosial, budaya, atau ekologi di lokasi tujuan secara kritis. Peserta didik difasilitasi untuk melakukan pemetaan masalah dan potensi (asset-based mapping) di masyarakat atau lingkungan yang dikunjungi. Peserta didik dilatih untuk mengumpulkan data, baik melalui observasi langsung, wawancara, maupun studi literatur. Tujuannya, antara lain mengasah keterampilan critical thinking (berpikir kritis) terhadap isu-isu nyata, membangun rasa ingin tahu (curiosity) dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan melatih kemampuan analitis dalam memahami hubungan sebab-akibat dari sebuah fenomena lokal.
RUMAH LIMAS: Peserta didik kelas XI dan guru pendamping ELE JN SMA Nasima mengeksporasi arsitektur rumah Limas yang ikonik. Rumah khas Palembang tersebut pernah dijadikan gambar pada uang kertas Indonesia nominal Rp10.000.
Tahap ini merupakan inti dari program, di mana peserta didik tinggal bersama warga di komunitas lokal. Ini adalah proses “melebur” atau imersi total ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Peserta didik hidup dengan pola keseharian masyarakat setempat, berinteraksi langsung dengan kearifan lokal, dan memahami nilai-nilai kehidupan yang mungkin berbeda dari keseharian mereka di sekolah. Tujuannya antara lain mendidik karakter kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Kemudian membangun kecerdasan sosial seperti empati, toleransi, dan kemampuan adaptasi lintas budaya (cross-cultural understanding). Selain itu juga menginternalisasi nilai-nilai kebaikan, gotong royong, dan kesederhanaan pada peserta didik yang seringkali justru ditemukan di luar zona nyaman sekolah.
Setelah melalui observasi dan live in atau interaksi, tahap ekspos adalah fase sintesis. Di sini, peserta didik diwajibkan untuk merefleksikan dan mengomunikasikan seluruh pengalaman mereka dalam bentuk karya yang kreatif dan edukatif. Pada tahap kegiatan ini mengubah pengalaman personal dan data yang dikumpulkan menjadi sebuah produk intelektual atau artistik (bisa berupa laporan mendalam, film dokumenter, pameran seni, tulisan jurnalistik atau presentasi publik). Fase ini mengasah kemampuan komunikasi (literasi verbal dan visual), melatih pertanggungjawaban intelektual atas apa yang telah dipelajari, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui publikasi yang informatif dan inspiratif mengenai potensi daerah yang telah dieksplorasi.
Mengagumi peradaban Sriwijaya
Perjalanan dimulai dengan menyusuri lorong waktu di Museum Balaputradewa. Di sini, para peserta didik terpaku menatap prasasti-prasasti kuno dan replika kebesaran kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Keheningan museum yang dingin menyelimuti mereka saat mengamati detail relief batu yang menceritakan kejayaan Sriwijaya di masa lampau. Melalui peninggalan ini, peserta didik diajak membayangkan betapa luasnya jangkauan pengaruh nusantara di masa lalu.

RAJA RIMBA: Mengenal lebih dekat sang penguasa hutan Sumatra di Museum Balaputradewa. Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) bukan sekadar hewan, tapi simbol kekuatan alam kita yang harus tetap terjaga.
Tidak jauh dari sana, rombongan bertandang ke Rumah Limas, ikon arsitektur kebanggaan Sumatra Selatan. Struktur kayu yang kokoh dengan ukiran rumit di setiap sudutnya menceritakan tentang filosofi hierarki dan penghormatan dalam masyarakat Palembang. Peserta didik menyentuh tiang-tiang kayu yang telah berumur puluhan tahun, merasakan tekstur sejarah yang tak tersampaikan lewat buku teks. Mereka belajar bahwa sebuah bangunan adalah catatan sejarah yang berbicara tentang kecerdasan arsitektur leluhur.

PENJAGA BUDAYA: Deep talk peserta ELE JN SMA Nasima bersama Haji Aziz, sosok di pelestari Rumah Adat Palembang. Dia menjelaskan urusan perawatan kayu sampai filosofi hidup Wong Kito Galo, sebutan untuk masyarakat Palembang.
Keingintahuan intelektual peserta didik kemudian diarahkan pada masa depan saat mereka menginjakkan kaki di Universitas Sriwijaya. Suasana kampus yang dinamis dengan mahasiswa yang lalu-lalang memberikan gambaran nyata tentang iklim akademis di tingkat pendidikan tinggi. Di sini, mereka tidak hanya melihat fasilitas fisik, tetapi juga membangun visi masa depan, membayangkan diri mereka duduk di ruang kuliah sebagai bagian dari generasi penerus yang akan mengelola bangsa di masa depan.
Perjalanan edukatif ini dilengkapi dengan kunjungan ke Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Di depan monumen yang menjulang gagah ini, peserta didik merenungkan pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan. Hawa sejarah yang kental di Monpera menciptakan rasa haru, membuat mereka lebih menghargai kemerdekaan yang dirasakan hari ini sebagai hasil dari perjuangan keras di masa lalu.
“Menjadi” Wong Kito
Pagi itu, di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan, suasana menjadi sangat berbeda. Di hadapan monumen yang kokoh menjulang tersebut seluruh peserta didik berbaris rapi. Saat Sang Saka Merah Putih dikibarkan dengan latar belakang monumen yang ikonik, rasa nasionalisme membuncah. Angin sungai yang bertiup kencang seolah membawa pesan semangat dari para pejuang masa lalu, menyatu dalam khidmatnya upacara yang dilaksanakan di tapak sejarah tersebut.

APEL MERAH PUTIH: Pendidik dan peserta didik SMA Nasima melakukan apel Sang Merah Putih di pelataran Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan sebagai ekspresi penghormatan kepada tanah air serta para pahlawan bangsa (Jumat 24/4/2026).
Setelah apel Merah Putih, penjelajahan berlanjut pada pengamatan langsung terhadap kekayaan ekonomi kreatif daerah. Rombongan mengunjungi sentra anyaman purun, di mana peserta didik melihat tangan-tangan terampil para perajin mengubah tanaman rawa menjadi produk bernilai tinggi. Mereka mencoba langsung menganyam, merasakan serat-serat tanaman yang lentur namun kuat di jemari mereka. Begitu pula saat melihat pembuatan kain tenun songket; dentum alat tenun tradisional yang berirama menciptakan melodi kebudayaan yang memukau. Kilau benang emas yang ditenun dengan teliti menjadi pelajaran berharga tentang kesabaran dan ketekunan yang harus dimiliki setiap peserta didik.
Peserta ELE-JN SMA Nasima tak melewatkan kesempatan untuk menjejakkan kaki di Pulau Kemaro, destinasi bersejarah yang terletak di delta Sungai Musi, Palembang. Di tempat ini, para peserta didik menyelami kisah cinta legendaris antara saudagar Tionghoa, Tan Bun An, dan putri Palembang, Siti Fatimah, yang menjadi akar sejarah terbentuknya pulau tersebut. Sembari menelusuri kemegahan arsitektur Pagoda Sembilan Lantai dan Klenteng Hok Tjing Rio yang berdiri ikonik sebagai simbol akulturasi budaya, para peserta didik merefleksikan bagaimana mitos dan realitas sejarah berpadu membentuk identitas bangsa. Pengalaman imersif ini tidak hanya memperkaya wawasan mereka mengenai kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga mengasah kepekaan mereka dalam memotret harmonisasi nilai-nilai kemanusiaan yang nantinya akan mereka tuangkan dalam karya ekspos yang mendalam.
Di sisi lain, aroma gurih dan pedas dari pusat pembuatan pempek menyambut indra penciuman peserta didik dengan hangat. Mereka melihat langsung proses pembuatan dari adonan ikan segar hingga perebusan, belajar bahwa kuliner adalah warisan budaya yang membutuhkan dedikasi dalam setiap takarannya. Sesi ini diperkaya dengan kunjungan ke pusat konservasi ikan basemah, di mana mereka belajar tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan tetap lestari agar kekayaan alam tidak sekadar tinggal cerita.
Petualangan berlanjut ke Desa Adat Burai dan Desa Adat Pelang Kenidai. Di sini, peserta didik menginap semalam berbaur dengan masyarakat, melihat langsung pola kehidupan komunal yang harmonis. Mereka belajar tentang gotong royong dan keramahan yang tulus. Kontras dengan suasana kota, perjalanan ke Wisata Alam Gunung Dempo di Pagaralam memberikan pengalaman yang menyegarkan. Udara dingin yang menusuk kulit dan hamparan kebun teh yang menghijau hingga ke kaki langit menjadi pengingat bagi peserta didik bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang harus dikelola dengan bijak dan berkelanjutan.

MEROASTING KOPI: Peserta didik SMA Nasima belajar meroasting kopi secara tradisional bersama para ibu penduduk desa di sekitar perkebunan kopi Pagaralam (22/4/2026)

BENANG EMAS: Kaisya Brosdia, peserta didik kelas XI SMA Nasima tampak serius mengikuti arahan perajin saat berlatih menenun songket khas Palembang dengan alat tradisional.

PENTAS KEAKRABAN: Peserta didik SMA Nasima berbaur dengan pemuda-pemudi serta masyarakat Burai dalam pentas seni yang menampilkan budaya khas Jawa maupun Sumatera Selatan (23/4/2026).

MEMPROSES PEMPEK: Nudia Sakhi dan rekan sedang berusaha melumat aneka bahan yang lengket agar menjadi pempek Palembangg yang terkenal kelezatannya di Rumah Pempek Rayhan (24/4/2025)
Kepala SMA Nasima, Sri Utami SPd Gr menjelaskan bahwa konsep ELE-JN tahun ini sengaja dirancang untuk memfasilitasi peserta didik menjelajah salah satu wilayah Nusantara dimana sebuah kerajaan maritim besar bernama Sriwijaya pernah eksis. “Konsep tujuan dari kegiatan ini adalah agar peserta didik mampu mengontekstualisasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku sekolah dengan realitas sosial, sejarah, dan budaya yang ada di lapangan. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi merasakan denyut nadi kehidupan di tempat yang mereka kunjungi. Kami ingin membentuk profil lulusan yang memiliki wawasan kebangsaan luas namun tetap berpijak pada nilai-nilai karakter luhur. Dengan melihat langsung industri lokal hingga situs religi, kami berharap tumbuh rasa empati dan kebanggaan akan jati diri bangsa dalam diri setiap peserta didik,” tegas Sri Utama saat melepas keberangkatan rombongan di halaman SMA Nasima pada Ahad 19/4/2026.
SILATURAHMI AKADEMIS: Serangkaian dengan paket kegiatan ELE-JN, peserta didik SMA Nasima menyempatkan silaturahmi ke Universitas Sriwijaya untuk mengenal beragam program studi serta keunggulan yang ada (23/4/2025)
Ziarah Aulia Palembang
Perjalanan ELE-JN 2026 mencapai puncaknya di Kompleks Makam Tekurep atau Kawah Tekurep. Kawah artinya kuali, tekurep berarti tengkurap atau terbalik. Atap bangunan tersebut mirip dengan kuali berwarna hijau yang ditaruh terbalik. Tempat peristirahatan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I dan para ulama besar ini memberikan suasana yang sangat kontras dengan hiruk pikuk kota. Sultan keempat Kesultanan Palembang Darussalam tersebut berjasa besar dalam memperkuat pemerintahan, perekonomian, dan pembangunan infrastruktur. Penambangan timah sebagai komoditi utama, perkembangan pesat agama Islam, dan pembangunan Benteng Kuto Besak merupakan contoh jasanya. Keheningan di bawah pepohonan rindang di area makam membawa peserta didik pada momen refleksi diri yang mendalam. Mereka duduk sejenak, meresapi sejarah pengabdian para tokoh agama dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di Bumi Sriwijaya.
Ziarah ini bukan sekadar rutinitas, tetapi perjalanan spiritual untuk memahami makna “khairunnas anfa’uhum linnas” atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Para guru pendamping membimbing peserta didik untuk memetik hikmah dari keteladanan para aulia yang telah berjuang tanpa pamrih. Suasana syahdu di makam membuat banyak peserta didik terdiam, merenungkan arah hidup dan kontribusi apa yang bisa mereka berikan bagi masyarakat setelah kembali dari perjalanan ini.

KAWAH TEKUREP: Kompleks pemakaman Kawah Tekurep di Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Di bangunan beratap hijau terdapat makam Sultan Mahmud Badaruddin I, tokoh yang membawa Palembang pada masa kejayaan.
Arvino Tristan Prayoga, salah satu peserta didik yang mengikuti kegiatan ini, mengungkapkan kesan manfaat yang mendalam. “Jujur, awalnya saya mengira kegiatan ini hanya perjalanan biasa. Namun, saat saya melihat langsung bagaimana proses pembuatan kain songket dengan tangan yang penuh ketelitian, dan saat berdiri di depan Makam Tekurep yang tenang, saya merasa tertampar. Saya sadar bahwa ilmu bukan hanya tentang angka di kertas, tetapi tentang bagaimana kita menghargai proses, menghargai keringat orang lain, dan memiliki kedalaman spiritual. Manfaat terbesar yang saya bawa pulang adalah perspektif baru; bahwa menjadi generasi muda tidak boleh abai terhadap akar budaya sendiri,” tuturnya.
Nabila Carissa Putri, peserta didik lainnya, menambahkan bahwa ELE-JN 2026 memberikan pelajaran tentang kemandirian dan rasa peduli. “Kesan manfaat yang paling melekat adalah saat kami berinteraksi dengan warga di desa adat. Melihat senyum mereka, kesederhanaan mereka, namun kekayaan jiwa yang mereka miliki, membuat saya berpikir bahwa kesuksesan bukan hanya soal materi. Saya belajar banyak tentang toleransi, adaptasi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Pengalaman ini benar-benar membuka mata saya bahwa dunia di luar sana, terutama Indonesia itu sangat luas dan membutuhkan peran kita sebagai generasi muda yang berkarakter,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan selama sepekan tersebut ditutup dengan sebuah refleksi kolektif yang mengharukan. Masing-masing peserta didik menuliskan janji diri mereka di buku catatan, sebuah komitmen untuk menerapkan nilai-nilai yang telah mereka pelajari selama di Palembang. Mereka tidak pulang dengan tangan hampa, melainkan membawa bekal wawasan yang kaya dan karakter yang lebih kuat. Selain itu mereka juga diwajibkan membuat laporan kegiaatan secara berkelompok yang berisi tulisan deskriptif, foto-foto bercerita, serta temuan masalah dan alternatif solusi yang ditawarkan.
ELE-JN 2026 bukan sekadar puncak kegiatan semester genap bagi peserta didik, melainkan sebuah babak baru dalam perjalanan kedewasaan peserta didik. Dengan memadukan unsur historis, edukasi industri, kelestarian alam, hingga kedalaman spiritual, SMA Nasima telah berhasil menjalankan misi pendidikan yang holistik. Para peserta didik kini kembali dengan membawa api semangat baru, siap untuk terus belajar, terus berinovasi, dan terus membawa nilai-nilai luhur Bhumi Srivijaya dalam setiap langkah mereka menatap masa depan Indonesia. (naskah: Deni & Pram, foto: Rozaq)
