Masjid Baitul Masykur SMA Nasima (28/10/2026) Kyai Muhammad Amin,M.PdI, AH menjadi pembicara dalam kajian rutin Rabu akhir bulan Jamaah Khatijah An Nur Sekolah Nasima
Rabu, 28 Oktober 2026 Kajian Khotijah An Nur kembali digelar bersama Kyai Muhammad Amin, M.Pd., Al Hafidz, sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kehadiran di majelis taklim, memperbanyak ibadah, serta membiasakan diri beri’tikaf di masjid. Disampaikan bahwa masjid bukan sekadar tempat untuk menunaikan ibadah, melainkan juga menjadi saksi atas kebaikan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya. Karena itu, umat Islam diharapkan senantiasa memakmurkan masjid dan mengisinya dengan berbagai amal saleh.
Kyai Muhammad Amin menekankan pentingnya menjaga dua bagian dalam diri manusia, yakni hati dan lisan, yang dapat mengantarkan seseorang pada kebaikan maupun keburukan. Hati yang bersih dan lisan yang terjaga menjadi kunci dalam membangun akhlak mulia. Sebaliknya, iri dan dengki dapat merusak hubungan antarsesama, yang salah satu tandanya adalah merasa senang ketika orang lain mengalami kesusahan dan merasa susah ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan. Oleh sebab itu, jamaah diingatkan untuk menghindari penyakit hati, menjaga ucapan, serta senantiasa menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, kajian tersebut membahas tanda-tanda seseorang yang diharapkan memperoleh penerimaan taubat dari Allah Subhana Wa Ta’ala. Di antaranya adalah hati yang semakin tenang dan kesungguhan meninggalkan kebiasaan buruk, kemampuan menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik, serta keinginan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan siapa pun. Selain itu, seseorang hendaknya berada dalam lingkungan pergaulan yang baik dan mendukung aktivitas positif, serta senantiasa mengingat kematian sebagai pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Tanda-tanda tersebut menjadi bahan introspeksi agar setiap muslim terus memperbaiki diri dan tidak kembali pada perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Melalui materi yang disampaikan, jamaah diajak untuk menjadikan taubat bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah perubahan nyata dalam sikap dan perilaku. Memperbaiki hubungan dengan Allah perlu diiringi dengan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, menjaga hati dari kedengkian, serta membiasakan lisan untuk bertutur kata baik. Kebersamaan dalam majelis taklim juga menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga semangat beribadah, memperoleh ilmu yang bermanfaat, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Dengan demikian, nilai-nilai kajian diharapkan tidak berhenti saat kegiatan berakhir, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Khotijah An Nur Sri Wahyuni turut mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa istiqamah menghadiri kajian dan menjaga semangat dalam menuntut ilmu agama. Kehadiran di majelis taklim diharapkan menjadi langkah nyata untuk terus memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Jamaah juga diharapkan dapat saling mendukung dalam menjalankan kebaikan, menjaga hati dan lisan, serta membangun lingkungan yang positif. Melalui kegiatan Kajian Khotijah An Nur, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi muslimah yang semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, dan istiqamah dalam beribadah hingga akhir hayat.

Foto bersama pasca kajian untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah
