Sekolah Nasima

Tartiluna Segera Go Public, QLC Nasima Silaturahmi ke Ulama Sanad Al Qur’an

Bagikan

MOHON DOA RESTU: Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima, Dr Indarti MPd (nomor 4 dari kiri) didampingi organ yayasan serta Tim Quran Learning Centre (QLC) Sekolah Nasima menyerahkan satu paket buku modul Tartiluna kepada Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, Dr KH Mu’tashim Billah (4/8/2026).

Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima terus memperkuat komitmennya dalam membangun pendidikan Islam yang unggul melalui penguatan nilai spiritual dan keilmuan. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan dengan melaksanakan kegiatan silaturahmi kepada para ulama dan ziarah ke makam para masyayikh di Grobogan, Salatiga, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (4/8/2026). Rombongan dipimpin Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima, Dr Indarti MPd didampingi Wakil Ketua Yayasan Ilyas Johari SPd MM, tiga orang direktur, serta empat orang Tim Quran Learning Centre (QLC) Sekolah Nasima. Kegiatan ini bertujuan memohon doa dan restu para ulama yang menjadi guru atau penyambung sanad ilmu Al Qur’an dari tim QLC dan para guru Al Qur’an Sekolah Nasima.

Sebagaimana diketahui Sekolah Nasima merupakan penyusun Metode Tartiluna dan telah dua tahunan mengimplementasikan metode pembelajaran Al Qur’an tersebut. “Mulai tahun 2026 ini beberapa sekolah, pesantren, dan TPQ berminat untuk turut menggunakan metode besutan QLC Sekolah Nasima tersebut. Oleh karena itu, sesuai adab keilmuan kami perlu silaturahmi dan ziarah melapor, memohon perkenan, nasihat, serta doa restu kepada para ulama yang menjadi guru dari para guru Al Qur’an Nasima. Hal serupa kami lakukan pada saat awal penyusunan, awal penerapan, dan akhir penerapan metode Tartiluna di Sekolah Nasima,” kata Direktur Asrama dan Keagamaaan YPI Nasima, Ahmad Mundzir SPd MAg MM.

MEMOHON NASIHAT: Pengasuh Ponpes At-Taufiqiyyah, Brabo, Grobogan, Dr KH Zaenal Arifin AH (nomor 2 dari kiri) memberi nasihat-nasihat penting dalam pengembangan Metode Tartiluna kepada rombongan YPI Nasima.

MENDUKUNG PENUH: Pengasuh Ponpes Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Nyai Hj Maemunah Baedlowi AH dan KH M Shofi Al Mubarok AH (nomor 4 dan 5 dari kanan) memegang paket modul Tartiluna. Keduanya merupakan guru Al Qur’an dari Direktur Asrama dan Keagamaan YPI Nasima, Ahmad Mundzir SPd MAg AH.

Silaturahmi dilakukan kepada Nyai Hj. Maemunah Baedlowi AH dan KH M Shofi Al Mubarok AH (Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan), Dr KH Zaenal Arifin AH (Pengasuh Pesantren At-Taufiqiyyah, Brabo, Grobogan), KH Munawir Munajat (Pengasuh Pesantren Nazzalal Furqon, Pos Tingkir, Salatiga), serta KH. Mu’tashim Billah dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Dalam setiap pertemuan, para ulama memberikan doa, nasihat, dan harapan agar Sekolah Nasima senantiasa istiqomah menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlakul karimah, mencintai Al-Qur’an, serta mampu menjadi pemimpin yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan negara. Para ulama juga menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam mengelola pendidikan karena keberhasilan lembaga bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberkahan ilmu dan akhlak para lulusannya.

SILATURAHMI PENUH HIKMAH: Pengasuh Ponpes Nazzalal Furqon Tingkir Salatiga, KH Munawir Munajat (nomor 2 dari kanan) menyampaikan nasihat kepada rombongan YPI Nasima agar pendidikan Al Qur’an senantiasa dibangun di atas fondasi keikhlasan, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Al-Qur’an.

Salah satu fokus pembahasan dalam silaturahmi tersebut adalah penguatan sanad Al-Qur’an melalui Quran Learning Centre (QLC) Sekolah Nasima. Sanad merupakan mata rantai transmisi pembelajaran Al-Qur’an yang bersambung dari seorang guru kepada gurunya hingga tersambung sampai Rasulullah shalallau alaihi wassalam. Tradisi keilmuan ini menjadi jaminan bahwa ilmu Al-Qur’an diajarkan secara benar, sesuai kaidah tajwid dan qiraah yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi Nasima, penguatan sanad bukan sekadar menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an peserta didik, tetapi juga membangun budaya keilmuan yang berakar pada otoritas ulama. Karena itu, para guru Al-Qur’an di lingkungan QLC terus didorong untuk belajar kepada para masyayikh yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sehingga proses pembelajaran Al-Qur’an di Sekolah Nasima tetap terjaga kualitas sekaligus keasliannya.

Ketua Pengurus Nasima, Dr. Indarti, M.Pd., mengatakan bahwa silaturahmi kepada ulama merupakan tradisi yang harus terus dijaga oleh lembaga pendidikan Islam. “Kami datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga memohon doa, mengambil hikmah, serta belajar dari para ulama agar perjalanan pendidikan di Nasima selalu berada di jalan yang diridhai Allah Subhanahuwata’ala. Kami berharap nilai-nilai yang diwariskan para ulama dapat terus hidup dalam setiap proses pendidikan di Nasima,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Pendidikan YPI Nasima, Sri Budiani MPd yang turut dalam rombongan menegaskan bahwa penguatan pendidikan Al-Qur’an menjadi salah satu prioritas pengembangan sekolah. “Melalui Quran Learning Centre, kami ingin memastikan bahwa pembelajaran Al Qur’an di Nasima tidak hanya menghasilkan peserta didik yang lancar membaca dan menghafal, tetapi juga memiliki bacaan yang benar, bersanad, serta memahami adab terhadap Al-Qur’an dan para guru, serta akhlak al karimah,” katanya.

ZIARAH GURU AL QUR’AN: Direktur Asrama dan Keagamaan YPI Nasima, Ahmad Mundzir SPd MAg AH (kiri) memimpin ziarah di makam KH Dzofir Syafi’I yang merupakan guru Al Qur’annya. Almarhum wafat pada 7/8/2026 lalu.

MAHAGURU ALQUR’AN NUSANTARA: Rombongan YPI Nasima, khusyuk berdoa saat berziarah ke makam ulama gurunya para guru Al Qur’an Nusantara, KH M Munawwir di Kompleks Makam Krapyak, Dongkelan, Yogyakarta.

Selain bersilaturahmi, rombongan juga melaksanakan ziarah ke makam KH Syamsuri Dahlan, KH Ahmad Baedlowi, dan KH M Dzofir Syafi’i di Kompleks Makam Brabo, Grobogan. Ziarah kemudian dilanjutkan ke makam KH Munajat, makam KH Mufid Mas’ud di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, serta makam KH Muhammad Munawir di Dongkelan, Krapyak, Yogyakarta. “Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Yayasan Pendidikan Islam Nasima berharap memperoleh keberkahan doa para ulama sekaligus memantapkan langkah Sekolah Nasima untuk membawa Metode Tartiluna go public. Semangat itu diharapkan semakin menguatkan langkah Nasima dalam menghadirkan pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, berwawasan global, serta berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan tradisi keilmuan para ulama,” kata Indarti. (Son)


Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *