Sekolah Nasima

Jelang HUT Kota Semarang, Pendidik Sekolah Nasima Ziarah Makam Sunan Pandanaran

Bagikan

MENELADANI WALI: Seusai berziarah, pendidik Sekolah Nasima berfoto di depan gapura Makam Ki Ageng Pandanaran atau Suanan Pandanaran I di puncak bukit Mugas Semarang (Jumat malam 3/4/2026).

Suasana khidmat menyelimuti kawasan perbukitan Mugas pada Jumat malam (3/4/2026). Sebanyak 25 orang pendidik dari Sekolah “Merah Putih” Nasima berkumpul untuk melaksanakan ziarah di Makam Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran I. Kegiatan yang berlokasi di Jalan Mugassari Nomor 6, Kecamatan Semarang Selatan ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi Setu Legen, sebuah agenda rutin yang terus dilestarikan oleh keluarga besar YPI Nasima untuk memperkuat spiritualitas dan jati diri.

Rombongan peziarah tampak khusyuk melantunkan doa dan tahlil di depan pusara sang pendiri Kota Atlas. Hadir mendampingi para pendidik, Wakil Ketua Pengurus YPI Nasima, Ilyas Johari SPd MM, Direktur Humas dan Publikasi, Muhson SPd MM, serta Direktur Litbang, Supramono MPd. Cahaya temaram dan udara malam yang tenang menambah kekhusyukan prosesi ziarah yang digelar tepat sebulan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Semarang tersebut.

Kegiatan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap akar sejarah lokal. Makam Sunan Pandanaran I dipilih sebagai destinasi utama karena nilai historisnya yang sangat kuat bagi masyarakat Semarang. Melalui ziarah ini, para pendidik diajak untuk melakukan refleksi diri sekaligus meneladani perjuangan tokoh besar yang telah meletakkan batu pertama peradaban di tanah ini sebelum meneruskan nilai-nilai tersebut kepada para peserta didik. Sunan Pandanaran I sendiri merupakan sosok sentral dalam sejarah berdirinya Semarang. Beliau adalah seorang ulama utusan Kerajaan Demak yang membuka lahan di daerah bernama Pulau Tirang. Di sana, beliau menyebarkan agama Islam sembari memajukan pertanian dan perkebunan. Fenomena munculnya pohon asam yang tumbuh jarang-jarang di tanah yang subur tersebut kemudian membuat daerah ini dinamakan “Semarang” (Asem yang Arang). Kepemimpinannya yang bijaksana membuat beliau diangkat menjadi Bupati Semarang pertama pada 2 Mei 1547.

PENDIRI SEMARANG: Direktur Asrama dan Keagamaan, Ahmad Mundzir SPd MAg AH (nomor 3 dari kiri) memandu bacaan kalimat tayibah di dekat pusara makam pendiri Semarang, Sunan Pandanaran (tengah).

Direktur Asrama dan Keagamaan YPI Nasima, Ahmad Mundzir SPd MAg AH, yang memimpin langsung jalannya ziarah, menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi para pendidik. “Ziarah ini adalah cara kami menyambung sanad perjuangan dan doa kepada pendiri Semarang. Sebagai pendidik di Sekolah Nasima yang mengusung semangat nasionalisme dan agama, kami ingin mengambil keberkahan serta inspirasi dari Sunan Pandanaran I agar semangat pengabdian beliau dalam membangun daerah dan menyebarkan ilmu dapat terpatri dalam sanubari setiap guru,” pungkasnya. (naskah: Pram, foto: Rizaq))

 


Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *